We would like to hear from you. Let us know what you think of the ASEAN Cultural Heritage Digital Archive(ACHDA) so that we can continue to give you an enriching experience as we seek to make further improvements to the website.
Wayang Museum, Jalan Pintu Besar Utara No 27 Pinangsia, Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Museum Wayang, Jalan Pintu Besar Utara No 27 Pinangsia, Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Date Submitted
1870
1870
Description
Gamelan Kyai Intan is a set of Lara Salendro dan Pelok Gamelan, made of bronze. In its time, this Yogyakarta-style gamelan was often used to accompany wayang kulit performances.
The year of its manufacture was around 1870 as part of the initiative of Babah Polim, a wealthy Chinese merchant from Muntilan, Central Java.
This gamelan is considered to be a valuable cultural heritage for Indonesia for it is very rare in type, uniquely designed, and is very small in number: because it is one of the oldest gamelan instrument, aged more than 100 years.
Gamelan Kyai Intan merupakan seperangkat gamelan Lara Salendro dan Pelok yang terbuat dari bahan perunggu. Gamelan bergaya Yogyakarta ini pada masanya sering kali digunakan untuk mengiringi pagelaran wayang kulit.
Tahun pembuatan gamelan ini yaitu sekitar tahun 1870 atas prakarsa Babah Polim, ia merupakan seorang pedagang Tionghoa dari daerah Muntilan, Jawa Tengah.
Gamelan Kyai Intan ini merupakan warisan budaya yang sangat langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di Indonesia karena merupakan salah satu gamelan tua berusia lebih dari 100 tahun.